Ketiga kalinya Jasiman Sitorus, S.Kom., MM Terpilih kembali menjadi Ketum Sitorus Bogor Dohot Boruna Worskhop DPC AJWI, Bangun Sinergitas Dengan APWMI Dengan Memberikan Fasilitas Free Premi BPJS Bagi Peserta Pelatihan Llt Bupati Bogor Ingin Optimalkan Keberadaan Hutan Kota Pakansari Untuk Jaga Keseimbangan Ekosistem Lingkungan Sekjen Kemendagri Minta Jajaran Sekda Jalankan Tugas Bantu Kepala Daerah Bertemu Lindsay Hoyle di Inggris, Puan Minta Tak Ada Diskriminasi Produk RI

Home / Bogor

Selasa, 9 Agustus 2022 - 11:43 WIB

PGI GELAR LOKAKARYA PENULISAN “ISU KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEYAKINAN” BAGI JURNALIST KRISTEN

Bogor – PGI menggelar  lokakarya Isu Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan bagi Jurnalis Kristen (KBB) selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 8 Agustus – 10 Agustus 2022 bertempat di Pondok Remaja PGI Jln. Raya Puncak KM 78, Cisarua – Bogor yang di hadiri oleh jurnalis Kristen yang tergabung di Organisasi Pewarna Indonesia dan Perwamki. 

Dalam lokakarya tersebut dibahas berbagai isu kebebasan beragama atau berkeyakinan yang Terjadi di Indonesia, pada acara pembuka di hari pertama dengan narasumber dari PGI sendiri menjelaskan tentang tujuan dan acara lokakarya ini di gelar (8/8/2022), dan memasuki hari kedua lokakarya tersebut dengan menampilkan narasumber dari Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK), Selasa (9/08/2022)

Tantowi Anwar, Pimpinan Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (SEJUK) mengatakan “sejak 7 juli 2022 peningkatan intoleransi antar umat beragama mengalami peningkatan cukup tinggi dimana terjadinya diskriminatif seperti pengerusakan tempat-tempat ibadah, penutupan tempat ibadah bahkan pelarangan beribadah kepada suatu umat kepercayaan tertentu, yang di lakukan oleh golongan mayoritas terhadap golongan minoritas”.

BACA JUGA  H. Muhammad Ujat Badrudin Ansor Akan Terus Berinovasi Untuk Edukasi Wisata Yang Didirikannya Ini Faktanya

Dalam kegiatan yang digelar PGI pada hari kedua ini, kegiatan lebih banyak berdiskusi antara narasumber dan peserta lokakarya. Dimana fasilitator menyampaikan berbagai contoh berita media yang bersifat clickbait dan terkesan memprovokasi.

Dampak dari pemberitaan yang bermodelkan seperti ini memiliki dampak yang sangat luas seperti pada pemberitaan Camp Gafatar Mempawah Kalbar, diantarnya, lebih dari 1120 orang mengalami stigma/bully, keguguran, diskriminatif, dan inafis (kriminal).

Juga melihat dari pemberitaan isu yang beredar bahwa Perang antara Budha dengan Islam adanya terjadi intimidasi, hate spin, hate speech, hate crime dan pelecehan, Hate spin merupakan “kebencian berbasis Agama dan tantangan bagi demokrasi”.

Dalam pemyampaian materi berkaitan dengan KBB hari kedua ini, Tantowi Anwar menyampaikan Peran dan tanggung jawab media untuk pemberitaan seharusnya memiliki dua peran diantaranya :

  1. Peran edukasi (Konstruktif)
  • bagian dari solusi,
  • fact checking (era digital)
  1. Peran advokasi (litigasi dan non litigasi) – watchdog
  • fact checking (verifikasi era digital).
BACA JUGA  Tim opsnal Polsek Tamalate Polrestabes Makassar Berhasil Grebek Sabung Ayam

“Catatan bagi media adalah ketika terjadinya suatu diskriminatif terhadap suatu golongan, alangkah baiknya melakukan pemberitaan yang tidak memprovokasi” tegasnya.

Johan dari  Pewarna Indonesia, memberikan pendapat bahwa “Kalo kita perhatikan memang jurnalis penting untuk di edukasi, jika jurnalis tidak di edukasi justru malah bisa menjadi memprovokasi, dan itu segera disosialisasikan seluas-luasnya”.

Sambung Tantowi “Jurnalis bukan hanya memberitakan sebuah beritanya saja, tapi juga harus menggali informasi mengenai pelaku ataupun korban, Ucapnya. ( 9/8/22)

Dalam sesi 1 hari ke dua, peserta sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, terlihat dari sesi tanya jawab seperti :

Endharmoko, kita sebagai wartawan sudah diatur dalam UU PERS 40 1999, tugas dan kewajiban sudah tercantum di dalam aturan tersebut, kalo kita melihat dari hasil pemaparan sesi hari ini, dimana kita harus menempatkan KBB dalam pemberitaan ini?. Apakah KBB ini sudah masuk dalam UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik ?.

BACA JUGA  Dpc AJWI Audiensi Dengan Disdik Kabupaten Bogor

Pertanyaan tersebut ditanggapi oleh Tantowi dengan mengatakan bahwa “Dalam kode etik junalistik pasal 8 sudah tercantum bahwa “wartawan tidak menulis atau menyiarkan berita yang berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau jasmani”.

Harapan kedepannya adalah bagi pengusaha media maupun jurnlist agar membuat judul-judul berita yang tidak clickbait yang dapat merugikan di masa mendatang bagi korban maupun media itu sendiri, akan tetapi berita tetap berkualitas.

-Romo Kefas-

Share :

Baca Juga

Bogor

Kwarcab Kabupaten Bogor Menggelar Rapat Kerja

Bogor

UPT Pembibitan ternak Rumpin Melalui DPC AJWI Kab. Bogor Menyerahkan Bantuan Bibit Ayam DOC ke Pesantren Ihya Annahdliyah Kemang

Bogor

Kapolres Bogor Pimpin Upacara Sertijab Dan Korps Rapot Kenaikan Pangkat Pengabdian

Bogor

Polres Bogor Gelar Pengukuhan dan Pelantikan Pokdar Kamtibmas

Bogor

Ketua Bhayangkari Cabang Bogor Distribusikan Bantuan Sosial Dari Ketua Umum Bhayangkari Kepada Masyarakat Terdampak Bencana Alam di Wilayah Kabupaten Bogor

Bogor

Jaga Situasi Kamtibmas, Kapolres Bogor Gelar Siskamling Bersama Warga

Bogor

Penuh Haru, Polres Bogor Pertemukan Korban Ayah Sejuta Anak Dengan Ibu Kandung

Bogor

Polsek Nanggung Polres Bogor Gelar Restorative Justice Kasus Penganiayaan